Subscribe to our RSS Feeds
Hello, this is a sample text to show how you can display a short information about you and or your blog. You can use this space to display text or image introduction or to display 468 x 60 ads and to maximize your earnings.

JENANG POO CENG

0 Comments »

Diantika PW
"Goleko jeneng nembe jenang..."

PEPATAH
Jawa ini sempat dipopulerkan Si Juru Kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan. Ungkapan yang dilontarkan Mbah Maridjan kala itu dimaksudkan untuk menyindir para politisi yang ingin berkuasa, tetapi belum populer di masyarakat. Jenang diartikan sebagai simbol kekuasaan, sedangkan jeneng simbol dari popularitas.
Pepatah kuno tersebut pun sebenarnya menjadi sebuah kiasan nasehat, bahwa untuk memperoleh rejeki (pekerjaan) orang harus bisa menjaga nama baik terlebih dahulu. Tak hanya mementingkan hasil, tetapi harus menunjukkan kinerjanya terlebih dahulu. Sebagaimana tertulis dalam Kitab Jaya Baya yang menggambarkan keburukan sifat sebagian besar manusia di zaman ini, "Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit."
Setelah kewajiban dikerjakannya, dengan sendirinya 'jenang' itu akan didapatkan. Namun jika manusia itu tidak berusaha meraih prestasinya secara maksimal, maka sebaiknya juga tidak perlu mengharapkan sepotong 'jenang' legit tersebut. Artian jenang ini pun luas, bisa saja berbentuk pendapatan maupun kompensasi dari nilai kerjanya.
Meski begitu, pada kenyataannya, banyak orang yang belum punya jeneng, tapi sudah bisa menggasak berkarung-karung jenang. Orang tidak perlu lagi bersusah payah menunjukkan prestasi dan produktivitas kerja, namun memilih jalan singkat dengan korupsi demi keuntungan sebanyak-banyaknya. Payahnya, pernyataan kitab Jaya Baya pun terbukti, "Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran, akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin."
Segala cara untuk menutupi kebusukannya itu pun di tempuh. Tidak heran, jika pencitraan pun terjadi di mana-mana. "Akeh pangkat sing jahat lan ganjil. Njabane putih njerone dhadhu." Laiknya sindiran Filsuf Friedrich Nietsche, bahwa orang besar itu tidak akan ada, yang ada adalah orang-orang yang menciptakan citra ideal. Para komunikator politik dan pemimpin-pemimpin politik sangat lekat hubungannya dengan pencitraan.
"Golek jeneng nembe golek jenang" sebenarnya diartikan sebagai penyelarasan jiwa dengan hukum alam. Jika belum bisa menunjukkan prestasi, dedikasi, dan produktivitas, maka buang jauh-jauh mimpi untuk mendapatkan rejeki apalagi kekuasaan. Jika hal ini dipaksakan, maka ketidakadilan lah yang terjadi dan selalu akan menimbulkan korban. Maka, hanya keteguhan imanlah yang pada akhirnya mampu menolak godaan-godaan para 'pengemis' kekuasaan itu.

Sendang Mulyana

Dening Sendang Mulyana Ana petinggi ngampleng andhahan. Ana partai politik polah, adate banjur mothah.
Sing rumangsa darbe kuwasa sumuk, adate banjur umuk. Mahasiswa regudugan pengin ngowahi kahanan, nanging malah antem-anteman lawan aparat keamanan. Kabeh padha adol gagah.

GAGAH, gedhe, dhuwur, pidegsa, pancen dadi idhaman. Apa maneh lamun kadunungan watak satriya, ber budi bawa laksana. Wanodya ngendi sing ora bakal kepranan? Bab sesebutan gagah pancen asring magepokan marang lanang. Arang-arang wong wadon antuk sebutan gagah, kajaba sing bener-bener madeg dadi prajurit maju perang. Wong lanang gagah kuwi sing kaajap bisa ngayomi lan ngayemi.
Mahapatih Gajah Mada uga digambarake gagah, mencereng, minangka agule-agule Majapahit kang tan gigrig tumekeng lalis. Dheweke nganti bisa dadi simbul kuncaraning Majapahit.
04.02

0 Responses to "JENANG POO CENG"

Poskan Komentar