Subscribe to our RSS Feeds
Hello, this is a sample text to show how you can display a short information about you and or your blog. You can use this space to display text or image introduction or to display 468 x 60 ads and to maximize your earnings.

gg

0 Comments »
"Ngasih maaf? Memangnya saya Tuhan? Urusan dosa manusia, yang berhak ngasih maaf itu ya Tuhan. Saya sama sekali tidak punya hak untuk memberi maaf kepada siapa pun, kecuali seseorang itu secara langsung pernah mencelakai saya," jawab Mas Celathu sambil meneruskan, "Lha kalau persoalannya hukum, biarlah itu diselesaikan secara hukum. Kan sudah ada tatanan yang mengaturnya."
"Tapi sampeyan kan diuntungkan ta. Sampeyan kan sering menirukan suara tokoh itu. Emang sudah bayar royaltinya?"
Mas Celathu yang memang kerap memparodikan tokoh itu dengan mengimitasi suaranya, tergeragap juga. Lalu dengan tangkas dia menyergah, "Akan saya bayar royaltinya, setelah tokoh itu membayar royalti kepada keluarga jutaan korban yang telah disengsarakannya."
Mas Celathu lalu menjejer berbagai kasus pembantaian manusia di masa lalu, yang telah dijadikan ancik-ancik tahta kekuasaannya. Jutaan keluarga dipunahkan masa depannya karena dikelompokkan sebagai anggota partai terlarang. Yang lainnya lagi ditenggelamkan nasibnya dalam waduk raksasa, ditumpas karena berbeda pendapat, disirnakan karena mempertahankan tanahnya, dan lain-lain.
Mengingat rangkaian kekejaman terhadap kemanusiaan itulah, Mas Celathu jadi semakin gemas dengan lagu "Gugur Satu Tumbuh Seribu" yang mengiringi berbagai pemberitaan.
Sepertinya ia ingin mengubah syair lagu itu menjadi, "Gugur Seribu Satu pun Jangan Tumbuh". Betapa berbahayanya jika sampai syair itu bertuah. Bayangkan, satu orang saja berhasil membinasakan jutaan manusia, apalagi jika lahir lagi seribu manusia sejenis itu. Peradaban bisa ambyar berantakan.
Dan ketika Mas Celathu, melalui pesan pendek, menanyakan hal ini kepada seorang kiai di Rembang yang diidolainya, dia memperoleh jawaban yang mengejutkan, "Sekarang sudah lahir yang seribu" itu.
Mas Celathu termangu memandang SMS yang baru diterimanya. Benar juga jawaban Pak Kiai ini. Yang gugur memang cuma satu, namun diam-diam telah terwariskan keganasan, ketegaan dan kekejaman dalam ribuan wajah. Dan kini, rupanya kita sedang hidup dalam kepungan keganasan baru. (45)
23.48

0 Responses to "gg"

Poskan Komentar