Subscribe to our RSS Feeds
Hello, this is a sample text to show how you can display a short information about you and or your blog. You can use this space to display text or image introduction or to display 468 x 60 ads and to maximize your earnings.

SAHWAT rAJA RAJA

0 Comments »

Siti Siamah
SEJARAH Jawa selalu diharu-biru oleh jejak gejolak syahwat para raja yang berbuntut sangat panjang melintasi abad. Buntut paling runyam berupa konflik rebutan warisan berupa takhta. Gejolak syahwat para raja itu mewariskan benih konflik bagi anak keturunan yang berpredikat ningrat.

Raja-raja Jawa lazimnya beristri lebih dari satu. Setiap istri melahirkan keturunan. Konflik rebutan warisan meledak jika keturunan raja tak bisa berdamai dengan para saudara tiri. Dengan kata lain, banyak keluarga bangsawan Jawa dilanda kemelut soal warisan. Status saudara tiri sering disertai ketidakadilan dalam berbagi warisan. Rembukan macet, lantas segalanya hendak diselesaikan dengan perang di jalur hukum atau perang dalam arti sebenarnya. Siapa kuat dia menang. Karena itu, tak jarang keturunan raja sangat kejam dan tega membunuh saudara.
Dalam konteks global, gejolak syahwat para raja bukan hal aneh di mata masyarakat internasional. Sebab, hampir semua raja pada masa lalu di seluruh pelosok dunia memiliki gejolak syahwat sangat kuat sehingga mereka mempraktikkan poligami. Bahkan kaisar dan bangsawan di China abad pertengahan, misalnya, mengoleksi ribuan selir.
Karena itu, raja dan bangsawan sejak dulu selalu jadi pelopor poligami. Di titik ini, kekuasaan pun identik dengan menguasai perempuan. Makin kuat raja dan bangsawan berkuasa, kian mampu menguasai perempuan. Banyak narasi kelam berlangsung, seperti kisah harem dalam tembok istana.
Poligami para raja dan bangsawan untuk memperkuat dan memperluas kekuasaan. Makin banyak selir dari banyak penjuru bisa mencerminkan keluasan kekuasaan. Tak pelak, banyak narasi historis yang menyebutkan raja-raja di berbagai penjuru dunia seolah-olah berlomba mencitrakan kekuasaan dengan memperbanyak selir. Caranya, bisa lewat perang menaklukkan kerajaan lain atau mencaplok wilayah lain.
Misalnya, raja bersama kalangan bangsawan segera merampas perempuan di wilayah yang ditaklukkan untuk mereka jadikan selir. Atau, sebaliknya banyak perempuan di wilayah jajahan berlomba-lomba bisa terpilih menjadi selir karena posisi selir identik dengan berbagai kenyamanan dan kemewahan.
Lembu Peteng Dalam konteks Jawa, narasi historis seperti Babad Tanah Jawa tentang gejolak syahwat para raja Majapahit (Brawijaya) telah memopulerkan istilah Lembu Peteng yang berarti keturunan ilegal sang raja pada masa jaya Kerajaan Majapahit. Narasi tentang Lembu Peteng ternyata banyak versi karena banyak yang mengaku Lembu Peteng di berbagai
daerah.
Narasi historis gejolak syahwat Brawijaya berkait dengan intrik kekuasaan, selalu beraroma kekerasan terhadap perempuan. Konon,
banyak istri dan gadis cantik dipaksa menjadi “selir“ dadakan pada saat Brawijaya bersama para pengawal berkunjung ke daerah-daerah.
Kegemaran berkunjung ke daerah yang dilakukan Brawijaya bersama para pengawal mungkin mirip fenomena kunjungan kerja ke daerah yang dilakukan para pejabat pusat selama ini yang identik dengan fasilitas akomodasi penginapan plus. Dan, karena pada masa Brawijaya belum ada obat dan alat kontrasepsi, layanan ranjang short-time para perempuan dalam konteks “mendadak jadi selir“ menghasilkan banyak anak berstatus atau berpredikat Lembu Peteng.
Selanjutnya, selama berabad-abad sejarah Jawa diwarnai konflik sesama Lembu Peteng dalam konteks perebutan kekuasaan yang identik dengan perebutan harta warisan. Setiap Lembu Peteng merasa berhak mewarisi kekuasaan Brawijaya atau minimal mewarisi daerah jajahannya.
Konflik sesama Lembu Peteng tidak hanya berlangsung secara transparan berupa perang terbuka, tetapi juga secara laten dalam bentuk sosialisasi trah. Misalnya, di berbagai pelosok desa ada keluarga yang mengaku keturunan Lembu Peteng. Pengakuan itu tersemat dalam bentuk gelar kebangsawanan di depan nama mereka.
Nilai Moralitas Gejolak syahwat para raja dan bangsawan, karena bernuansa poligamis, cenderung dianggap berbeda dari nilai moralitas yang dianut masyarakat awam. Akibatnya, makin banyak warga masyarakat Jawa yang tak respek terhadap kaum bangsawan. Bahkan sementara gadis Jawa yang merasa sudah nyaman dengan kehidupan modern menolak dipersunting lakilaki bangsawan karena tak mau dimadu.
Kalangan orang tua awam memiliki ungkapan populer: “Ora usah kedhuwuren panjangka murih ora kuciwa lan nelangsa.” Ungkapan itu sering menjadi nasihat bagi anak gadis rakyat awam yang tergila-gila pada putra bangsawan. Maksud tersembunyi dari ungkapan itu adalah sikap menampik poligami yang kerap dilakukan kalangan bangsawan.
Di sisi lain, kalangan bangsawan Jawa selalu berusaha mempertahankan nilai moralitas yang dianggap identik dengan tradisi keraton berkait dengan perkawinan. Misalnya, mereka tetap mementingkan bibit, bebet, bobot dalam memilih besan dan menantu. Itu mereka lakukan agar trah atau garis keturunan kebangsawanan tidak meluntur.
Namun sejak dahulu kala ada kesan ironis berkait upaya mempertahankan trah di kalangan bangsawan. Sebab, mereka mewarisi jejak gejolak syahwat para leluhur yang melunturkan trah kebangsawaan dengan banyak jejak selir atau praktik poligami. Maka harus diakui, para raja Jawa bukan teladan yang baik dalam urusan kesetiaan dalam perkawinan.
Jadi, jika belakangan ini makin banyak bangsawan menolak poligami, itu bisa disebut sebagai pencerahan atas kekelaman sejarah. Itulah kekelaman sejarah yang sering dirunyamkan oleh kemelut konflik keluarga dalam perebutan warisan sebagai buntut jejak gejolak syahwat para leluhur.
04.00

0 Responses to "SAHWAT rAJA RAJA"

Poskan Komentar