Subscribe to our RSS Feeds
Hello, this is a sample text to show how you can display a short information about you and or your blog. You can use this space to display text or image introduction or to display 468 x 60 ads and to maximize your earnings.
0 Comments »
Jurnalisme yang Mencerahkan Publik
Oleh : Supadiyanto | 24-Nov-2012, 20:15:17 WIB

KabarIndonesia - Di masa depan, sangat penting menempatkan jurnalis tidak sekadar sebagai pengumpul fakta. Tetapi bagaimana juga menempatkan posisi strategisnya dalam mengemban misi mulia yakni memberikan pencerahan kepada publik.     ”Lewat tulisan dan gagasan jurnalis dalam media, publik kemudian menjadi memiliki pandangan baru bagaimana seharusnya kondisi ideal dalam bermasyarakat dan berbangsa,” kata Adi Nugroho yang mewakili Rektor Universitas Diponegoro Semarang Profesor Sudharto saat membuka Seminar Nasional bertajuk: Jurnalisme From Zero to Hero di Gedung Fisip Undip Lantai 3 Tembalang belum lama ini. Lebih lanjut, dirinya menjelaskan, beberapa media di Indonesia sudah menerapkan prinsip dan cara pemberitaan dan menyajikan gagasan dalam media seperti itu, dan media-media tersebut perlu diapresiasi.  ”Sangat penting juga jurnalis memiliki sense sebagai seorang pahlwan. Sehingga jurnalis menempatkan dirinya pada posisi penting yang diharapkan publik dan memiliki misi mulia” kata Sudharto dalam seminar yang diadakan LPM Manunggal.
Seminar menghadirkan pembicara Bekti Nugroho dari Dewan Pers, Farid Gaban pegiat Film Dokumenter/mantan jurnalis TEMPO, serta News Anchor RCTI Gustav Aulia. Dalam kesempatan tersebut, Rektor Undip Semarang mengapresiasi gagasan LPM Manunggal membahas tema transformatif tersebut. Di mana memiliki tujuan akhir yakni dalam kerangka kampus berposisi sebagai agen-agen pembaharuan dan penempaan ide dan gagasan aktual, yang memberi kontribusi bagi kemajuan dunia jurnalisme di tanah air.      Peran Vital Jurnalis
Anggota Dewan Pers Bekti Nugroho memaparkan, perlunya media dan jurnalis tanggap dengan perubahan yang ada di masyarakat. Termasuk dalam beradaptasi terhadap berbagai kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang membawa implikasi bagi cara wartawan bekerja.   “Ke depan seorang wartawan harus sekaligus memiliki keahlian yang selama ini terpisah, bisa saja misalnya sekaligus wartawan yang bersangkutan tidak sekedar dapat menulis, tetapi juga mengambil gambar visual dengan kamera dan teknik mengirimkannya ke media,” kata Bekti Nugroho yang juga salah satu alumnus Jurusan Ilmu Komunikasi Undip Semarang.  Hal yang dikemukakan itu sejalan dengan era konvergensi media, yang menuntut wartawan memiliki kemampuan yang berbeda jika dibandingkan dengan kondisi sepuluh tahun yang lalu ketika ia menjadi wartawan media di sebuah media cetak.  “Pada saat itu, bisa menulis sudah cukup baik dan masuk krtiteria menjadi wartawan media, tetapi mungkin di era sekarang ini tidak cukup lagi seperti itu,” papar Bekti Nugroho. Seminar nasional yang diselenggarakan LPM Manunggal diikuti sebanyak 150 peserta dari berbagai fakultas di Undip Semarang serta sejumlah mahasiswa dari PTN/PTS lain di Semarang. Pembicara lain Gustav Aulia memaparkan tantangan liputan sebagai seorang jurnalis yang pernah dialaminya dan menjadikannya menjadi lebih matang.
 Sedangkan Farid Gaban, pekerja film dokumenter, menekankan agar setiap jurnalis harus berhasil menyajikan karya-karya jurnalismenya dan menjadi pencerahan bagi publik untuk lebih memahami sisi lain Indonesia. (*)   
22.03

0 Responses to " "

Poskan Komentar