Subscribe to our RSS Feeds
Hello, this is a sample text to show how you can display a short information about you and or your blog. You can use this space to display text or image introduction or to display 468 x 60 ads and to maximize your earnings.
0 Comments »
KabarIndonesia - Kasus darah tinggi (hipertensi) sering kali timbul tanpa gejala. Akibatnya, kebanyakan penderita  menganggapnya sepele. Padahal tanpa penanganan yang benar, hipertensi bisa berakibat fatal. Pasalnya, hipertensi bisa menyebabkan berbagai komplikasi mematikan.

Spesialis penyakit dalam dari Divisi Ginjal dan Hipertensi FKUI, Prof dr Jose Roesma, mengungkapkan hipertensi merupakan penyakit penyebab kerusakan organ-organ tubuh lain, seperti pembuluh darah perifer, jantung, otak, ginjal, dan retina mata. Prof Jose menerangkan 1% dari penderita hipertensi yang tidak ditangani secara baik, dalam kurun waktu kehidupannya diperkirakan akan mengalami krisis hipertensi. Yaitu sebuah kondisi naiknya tekanan darah secara mendadak disertai atau tanpa disertai kerusakan target organ.

Kerusakan target organ yang terjadi, antara lain gagal jantung akut dengan pembengkakan paru (36,8%), kerusakan otak berupa infark serebral (24,5%), enselopati (16,3%), pendarahan intraserebral atau subarachnoid (4,5%), miokard infark akut atau angina tidak stabil (4,5%), disesksi aorta (2%), eklampsia (4,5%), dan gagal ginjal (1%).

Kelola dengan baik.
Pada kesempatan yang sama, spesialis jantung dan pembuluh darah dari Rumah Sakit Jantung Harapan Kita dr Arieska Ann Soenarta, besar tekanan darah normal adalah kurang atau sama dengan 120/80 mmHg. ''Diagnosis hipertensi ditegakkan bila tekanan darahnya lebih atau sama dengan 140/90 mmHg,'' ujar dr Arieska yang juga Ketua Inash (Indonesian Society of Hypertension).

Untuk mencegah komplikasi, lanjutnya, penderita hipertensi harus mengonsumsi obat-obatan agar tekanan darahnya terkendali. Konsumsi obat harus dilakukan secara teratur dan dalam jangka panjang. Bahkan, sering kali obat-obatan itu harus dikonsumsi seumur hidup.

Menurut dr Arieska, deteksi dini melalui pemeriksaan tekanan darah secara teratur perlu dilakukan mengingat sebagian besar kasus hipertensi timbul tanpa gejala. Secara umum, hipertensi bisa dicegah melalui gaya hidup sehat meliputi diet rendah lemak, gula dan garam, teratur berolahraga, menghindari kegemukan, dan tidak merokok serta mengonsumsi alkohol.

Deteksi dini penting pula dilakukan bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga penderita hipertensi. Sebab, keturunan merupakan salah satu faktor risiko hipertensi. Faktor risiko lainnya adalah peningkatan usia, kebiasaan merokok, kelebihan kolesterol, dan diabetes. (*)
22.01

0 Responses to " "

Poskan Komentar