Subscribe to our RSS Feeds
Hello, this is a sample text to show how you can display a short information about you and or your blog. You can use this space to display text or image introduction or to display 468 x 60 ads and to maximize your earnings.
0 Comments »
Saan Mustopa Jadi Rumpian Ibu-Ibu Pengajian
Oleh : Neng Asmah Ahmad | 26-Nov-2012, 01:38:05 WIB
KabarIndonesia - Karawang, Bagi sebagian kalangan, aktifitas "ngerumpi" diidentikkan sebagai kebiasaan yang salah kaprah. Bahkan, tidak sedikit pula yang menilai jika interaksi sosial spontan lagi terbuka ini tidak bermanfaat karena melulu bahan komunikasinya berbuntut liar dan menggiring opini negatif dalam tatanan sosial.

Tapi tidak demikian bagi jemaah ibu-ibu pengajian di Mushola Al Muhajirin di Desa Karayasari, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang. Sebanyak 30 orang ibu-ibu rumah tangga di sana, tepatnya dilingkungan RT 44/19 Dusun Bakanjati, telah memperlihatkan bahwa konsep pengendalian komunikasi sosial yang baik mampu menciptakan kemasan positif terhadap perkembangan lingkup sosial masyarakat, kendati dalam prosesnya memanfaatkan celah yang dinilai minor oleh sebagian kalangan.

Melalui wadah forum pengajian, ibu-ibu yang rata-rata usianya 36 tahun sampai 45 tahun dilingkungan Dusun Bakanjati Karawang ini seakan memperlihatkan 'ngrumpi" sebagai rangkaian aktifitas peristiwa sosial yang bagi sebagian kalangan ditandai kutip tersebut, justru ketika kebiasaannya terstimulan dengan cara tepat dan kontinyu tidak melulu efeknya berbuntut negatif.

Meski tak sempurna, namun prakarsa ibu-ibu pengajian yang sedang mengemas kebiasaan "ngrumpi" pada pemaduan tema atau tajuk besar dalam acara keagamaan dilingkungan tinggalnya kini, cukup mampu menunjukan bahwa aktifitas sosial yang sekalipun ada dianggap minor, bisa menumbuhkan respon sosial yang berujung positif. Dengan catatan tahapan stimulisasinya perlu diarahkan pada niatan benar dan memilah untuk menghindari pemanfaatannya pada hal tidak benar.

"Tajuk rutinitas "Ngrumpi Pengajian" sengaja diteruskan sebagai wadah silaturahmi warga ibu-ibu di sini. Tetapi juga, digelar bagi pemahaman belajar komunikasi sosial lingkungan kami dengan harapan madhorot bagi seluruh warga kami," ungkap Ibu Mustiroh (45), seorang pengurus aktif acara pengajian rutin mingguan di Mushola AL Muhajirin Karyasari.

Kepada pewarta warga KabarIndonesia, ia menyontohkan, salah satu upaya pengembangan aktifitas komunikasi sosial oleh ibu-ibu dilingkungannya untuk reaksi positif sosial ini seperti digelar Sabtu (24/11) pagi.

"Mengaji di sesi Ngrumpi Pengajian di sini itu, pastinya tidak keluar aturan agama, semua pembelajaran diarahkan evaluasinya untuk memahami mendalami ilmu-ilmu keagaman untuk dikembangkan sebagai bekal serta pedoman aktifitas keseharian warga. Hanya saja, sebagai upaya elaborasi, kami memang mengisi sesi pembahasan berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang muatan isinya sesuai norma dan atuiran agama," beber Mustiroh, sambil menyebutkan sesi pengajian ilmu pengetahuan ibu-ibu di lingkungannya tersebut pada pekan ini yaitu membahasa bentuk kepedulian sosial pihak luar yang telah merangkulkan derma ke wilayah tersebut.

"Sabtu ini, kami merefleksi pembahasan sosial kegiatan santunan 160 orang anak yatim yang dilangsungkan oleh Pak Saan Mustopa anggota DPR RI dari Demokrat, agar wajib dan bisa pula kami lanjutkan sesuai kemampuan sebagai bagian dari refleksi sosial yang diteruskan dalam forum kami,"ungkapnya.

Berbicara ngerumpi, atau umum diketahui sebagai aktifitas diskusi non formal tanpa batas, memang diera kekinian bukan lagi hal asing  ditelinga masyarakat. Dimana ruang publik sekaligus media komunikasi sosial yang spontan lepas dan terbuka ini, uniknya bak primadona dan dimanfaatkan semua kalangan dalam berinteraksi. Tak terkecuali kaum perempuan, aktifitas ngrumpi juga belakangan ini doyan dikerjakan kaum pria walaupun persentasinya relatif kecil.

Tapi sayang, sebagian kalangan ada pula yang lupa untuk tidak menggunakan ruang ini pada hal tidak penting, semisal membicarakan aib pihak lain, memfitnah, atau menggunjing, dan sebagainya. Karenanya untuk menghindari itu, kita perlu sepakat kalau budaya aktifitas ngobrol bebas yang sudah lama jadi kebiasaan umum ini agar dilakukan arahannya dalam interaksi sosial hanya pada pengembangan sosial yang madani.Salah satunya, memanfaatkan kebiasaannya tersebut pada hal yang bermanfaat demi berbagi kebaikan kepada semua orang.(*)

22.33

0 Responses to " "

Poskan Komentar